Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

CINCIN DI SURGA



Malam sebelum dimulainya ujian, aku menerima dua telepon yang membahagiakan hatiku. Pertama, dari Putri yang mengucapkan semoga berhasil kepadaku seperti biasa. Telepon kedua dari Syarifa... Ya, Sarifa yang membisikkan ”Aku mencintaimu,” kepadaku.
          Ya. Cinta! Begitulah yang dibisikkan kepadaku dengan nafas terputus-putus. Berdiri bulu romaku kala mendengarnya.
Aku terkejut. Sangat, sangat terkejut. Bukan karena aku tidak mengharapkannya atau tidak menyangkanya. Namun, karena itu adalah kali pertamanya kudengar dari mulut Syarifa. Aku telah menantikannya enam tahun aku mengenalnya. Dia mengucapkannya tepat saat aku memerlukannya. Dia seperti tahu aku sedang merasa kesepian dan penuh ketidakpastian. Mungkin, dia juga tengah berada dalam keadaan yang sama.
” Aku juga mencintaimu,” jawabku lembut. Air mata tergenang di kelopak mataku saat itu. Aku juga seperti mendengar tangisan gembiranya sebelum dia meletakkan gagang telepon.
Biasanya jika aku mendengar ucapan cinta dari anak remaja, aku akan mengatakan bahwa itu adalah hal cengeng. Namun, saat aku sendiri mendengar dan mengucapkannya, keikhlasan dan kerelaan yang terpancar darinya menawarkan kewajiban mengahadapinya dengan kelembutan dan kedewasaan.
Aku terdiam sejenak. Aku mengingat hubunganku dengan Syarifa. Kami memang tidak pernah mengungkapkan perasaan sejauh ini. Kini, rasanya manis menikmati hikmah menahan perasaan dan tindakan kami itu. Aku masih tidak percaya, tapi aku ingin percaya dan terus percaya.
Aku tahu, aku tidak akan mencapai hasil yang gemilang dalam ujian kali ini. Aku hanya berharap lulus. Bisikan cinta Syarifa telah memberikan semangat agar aku berusaha semaksimal mungkin meski terasa sulit. Kadang-kadang, aku merasa tak pantas menerima cintanya. Kali ini, penantianku berakhir. Ternyata dia mengerti keadaanku. Dia menerimaku apa adanya. Selama ini dibiarkannya aku membuat keputusan sendiri. Aku lebih matang atas kepercayaannya. Cintanya seperti malaikat, datang membawa gembira kepadaku. Alhamdulillah.
Aku menghadapi ujian dengan persiapan dengan maksimal. Aku mengikuti ujian di kelas sosial, sedangkan Syarifa di kelas sains, jadi kami tidak berada di kelas yang sama. Aku hanya punya kesempatan bertemu dengannya saat Kontes Mading Championship minggu depan.
Sepanjang hari-hari ujian, aku juga berusaha tidak menghubunginya. Aku takut mengganggu konsentrasinya. Meski aku tahu, kami berdua sama-sama menunggu hari terakhir masa ujian itu.
Kini aku merasa bahagia dan tenang. Ya, tenang. Hanya dengan Syarifa hatiku merasa tenang.
Tidak! Aku juga merasa tenang ketika bersama Putri, kata sudut hatiku yang lain.
Tetapi, Putri adalah penasihatku, bukan penghuni hatiku, jawab sudut hatiku yang telah terisi oleh Syarifa.
”Ah! Begini saja. Aku mencintai keduanya meski dengan jalan berbeda,” aku tersenyum sendiri. Saat itu, aku merasa sangat beruntung.
Esok sabtu hari ujian telah usai. Kontes Mading Championship akan diadakan Hari Minggu. Setelah itu, selesailah segala ujian. Aku tidak sabar menunggunya. Karena Mading Championship tidak mewajibkan untuk belajar, aku memutuskan untuk jalan-jalan ke Pasir Putih. Aku ingin melapangkan dada dan pikiranku.
Aku sampai di Pasir Putih pukul sepuluh pagi. Aku berjalan menuju sebuah kedai untuk membeli sebotol minuman. Saat tengah berjalan di tepi pantai ,aku melihat sesuatu yang merusak pemandangan mataku. Ya! Aku melihat Rina di sana. Dia sedang bergandengan tangan dengan Roni. Rina tidak lagi memakai kerudungnya dan roknya. Dia memakai celana pendek dan blus yang memperlihatkan sebagian dadanya. Pipinya memakai bedak yang mencolok. Bibirnya memakai lipstik merah merekah. Astagfirullah!
Aku segera bersembunyi. Aku tidak mau mereka melihatku. Aku terus memerhatikan mereka. Rina tidak segan-segan memeluk tubuh Roni sambil berjalan di tepi pantai.
Aku memutuskan untuk kembali pulang saja. Aku sedih melihat Rina yang kembali pada sikap dan kelakuannya. Tidak ada bekasnya kah ajaran agama yang disampaikan Ustad Zein padanya? Menurut Rahmad temanku. Hati Rina  saat itu berkobar-kobar dengan semangat Islam yang dikenalnya. Apakah semua itu hanya sandiwara? Apakah dia hanya sekedar berakting untuk memgelabuhiku? Ah! Rina dan Roni keduanya memang pintar akting. Berlagak alim dan penuh semangat. Sekarang, aku juga melihat akting yang dimainkan oleh mereka.
Tiba-tiba, aku merasa bersalah. Mungkin, penolakankulah yang menyebabkan Rina bersikap demikian. Namun, aku ingat pesan Ustad Zein bahwa tidak ada paksaan  dalam agama. Sudah jelas, mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah. Semuanya tinggal dipilih. Rina telah memilih sendiri untuk kembali ke keadaan seperti itu. Aku tidak harus jadi merasa bersalah.
Aku merasa tenang. Aku merasa telah lepas dari ancaman yang pernah diajukan Rina kepadaku. Kini, aku bebas menaruh sepenuhnya perhatianku kepada Syarifa. Aku bebas mencurahkan cintaku tanpa gangguan siapapun. Aku mengucapakan syukur kepada Tuhan karena telah memperlihatkan Rina yang sebenarnya padaku. Wajah Syarifalah yang kini bersinar di hatiku.
Entah mengapa, aku ingin mengabarkan berita gembira ini pada Putri. Selama ini Putri adalah orang yang terdekat dihatiku. Dia tahu rahasia dan keinginanku. Aku harus memberi tahu perkembangan terakhir ini. Aku yakin dia bersedia mendengar dan memberi topangan bagi hatiku. Hatiku melonjak kegirangan.
Aku lalu menuju sebuah toko setempat yang memiliki telepon umum. Aku coba menelepon ke rumah Putri. Ibunya yang mengangkat telepon mengatakan bahwa Putri sedang pergi belajar agama di Masjid Al-Ikhlas.
Aku merasa kecewa bercampur bahagia mendengar kabar itu. Kecewa karena aku tidak dapat berbicara dengannya. Bahagia karena Putri telah mengukuti belajar agama diam-diam.
Aku tiba-tiba ingat bahwa Syarifa juga ingin belajar agama di bawah bimbingan Ustad Zein bersamaku. Aku berjanji akan membawanya ke sana segera setelah ujian selesai.
Benakku seperti disentuh untuk mengingat sesuatu? Apa ini? Apakah ini? Apakah ingatan yang tersembunyi di kepalaku dan ingin kulepaskan ini?
Astagfirullah! Aku hampir lupa dengan undangan ulang tahun Syarifa yang akan berlangsung empat hari lagi. Aku belum membelikan Syarifa hadiah. Untung, aku belum beranjak dari daerah sekitar Pusat Mall. Aku bisa mencari sesuatu untuk kujadikan hadiah buat Syarifa. Tetapi, hadiah apa? Aku jadi bingung. Apakah hadiah yang sesuai untuk menandakan dimulainya jalinan kasih antara aku dan Syarifa? Sepertinya cincin saja. Ya, cincin.
Setelah mendapatkan cincin yang pas buat Syarifa akhirnya aku pulang. Sesampainya di rumah, aku mengucapkan salam. Aku mendengar suara ibu membalas ucapan salamku, lalu suara gegas kakinya. Pintu dibuka.
”San, cepat, jawab telepon. Gawat!” kata Ibu gugup.
”Dari siapa Bu?”
”Putri. Katanya penting,” jawab ibu singkat.
Ah, Putri. Tidak sabar dia rupanya menungguku menelepon. Dia pula yang menelepon lebih dulu, bisikku dalam hati.
”Assalamualaikum,”kataku tenang.
”Waalaikumsalam. Hasan ,ya?”
”Ya, Rin. Ada apa nih, meneleponku. Tidak bisa menunggu aku  menelepon sajakah? aku belum sholat ashar nih,” jawabku.
”San....dengar baik-baik... Aku harap kamu tenang,” sahutnya dengan suara gugup.
” Aku sudah tenang. Tampaknya, kamu yang tidak tenang,” jawabku santai. Aku penasaran, mengapa sikap Putri seperti itu.
”San sesuatu yang buruk telah terjadi,” katanya gugup. Lalu, menangis.
Aku panik. Apa yang telah terjadi? Apa yang menyebabkan Putri menangis?
” Apa yang terjadi?” Tanyaku dengan resah dan takut.
” Syarifa,” jawabnya pendek.
Hatiku kalut.
”Apa yang terjadi pada Syarifa?”
”San....Syarifa kecelakaan. Sore tadi,” jawab Putri.
Tangisnya semakin kuat terdengar di ujung telepon.
”Apa? Kapan? Dimana?” suaraku simpang siur, sama dengan keadaan hatiku kini.Gagang telepon lepas dari genggamanku. Tubuhku lemas.
”San!Hasan!” suara Putri cemas. Aku meraih gagang telepon kembali.
”Di mana Syarifa sekarang?” Aku menangis seperti anak kecil.
”RSI. Ahmad Husein! ICU... Menurut ayah Syarifa, kecelakaan itu parah sekali. Syarifa tertabrak truk di belokan jalan raya dekat sekolah kita,” jelas Putri.
Gagang telepon terepas dariku sekali lagi. Tubuhku dingin.
Sebelum semuanya gelap, aku mendengar suara bisikan Syarifa,”Aku mencintaimu.”Ternyata itulah bisikkan terakhir yang kudengar darinya.
Waktu maghribpun tiba. Aku menghadiri pemakaman Syarifa di pemakaman Bukit Bidadari. Syarifa adalah bidadari yang meninggalkanku segera setelah dia membelai hatiku dengan perasaan halus dan indah. Sekarang tinggallah aku di dunia ini dalam kesunyian dan kesedihan.
Banyak yang hadir disana. Selain saudara dan kerabatnya, teman-teman sekolah juga hadir. Termasuk Amir, Iryadi dan Rohim. Aku tidak melihat Putri atau Rina. Mungkin, mereka hanya melawat ke rumahnya saja.
Aku tidak mengerumuni liang lahatnya seperti yang lain. Saat itu aku merasa sunyi dan kesepian.
Saat aku melihat dari jauh ayah Syarifa melempar tanah ke liang lahatnya, aku tergerak ingin menjadi tanah itu dan kekal bersemayam bersama jasadnya. Tampungan kesedihan tergenang di kelopk mataku, tetapi tidak sampai jatuh. Saat itu, aku melihat duniau gelap pekat. Seolah-olah badai yang sangat besar tengah menyelubungi hidupku? Mampukah aku Menghadapinya?
Setelah iring-iringan beranjak pulang, aku terpaku sejenak. Mataku mengikuti gerakan kendaraan yang berlaku perlahan-lahan meninggalkan kawasan pemakaman. Tinggallah aku sendirian di sana. Suasana begitu sepi. Hanya terdengar kicauan burung di pepohonan. Aku menghela nafas panjang. Kini, giliranku untuk menemui kekasihku.
Kemudian, dengan langkah lemah aku berjalan menuju pusaranya. Setiap langkahku dibebani kepiluan mengenang saat saat manis bersamanya. Sesampai disisi pusaranya, aku berlutut. Aku memegang nisanya dengan lembut. Aku menahan diri agar tidak menangis meski dadaku sakit dan perih.
Aku melhat langit yang terbentang, mencoba bertanya pada Tuhan, mengapa memanggil Syarifa pada saat aku membutuhkannya? Sinar matahari menyilaukanku, seolah-olah menjawab pertanyaanku. Mataku berkunang-kunang sebentar. Aku insaf dan harus ikhlas dengan segala ketentuan Tuhan. Dadaku semakin perih. Aku beristigfar berkali-kali. Lalu, mengeluarkan kotak kecil berwarna merah yang kubawa. Ku keluarkan sebentuk cincin perak bermata delima yang ingin ku hadiahkan pada Syarifa pada hari ulang tahunnya. Ternyata, Aku tak lagi sempat menyarungkan cincin itu di jari manisnya. Aku merasa kesal telah dua kali tak dapat menyambut hari istimewa itu bersamanya. Ah, mungkin sudah suratan takdir.
Aku mencium cincin itu dengan lembut. Kemudian, dengan membaca basmallah, aku memasukkannya ke dalam tanah yang menutupi pusara Syarifa. Biarlah cincin itu bersemayam bersama jasadnya.
Setelah membaca doa dan Al-Fatihah dan beberapa doa lain kepada Allah, aku bertekad untuk dapat bertemu dengannya di akhirat kelak. Semoga aku dapat melanjutkan bahtera kasih dengannya nanti di surga. Aku bangun perlahan, lalu menatap pusara Syarifa. Suatu hari nanti, aku juga akan menjadi tanah sepertinya. Aku insaf, benar-benar insaf. Aku memutar badan untuk bergerak pulang. Aku mendongakkan kepala, memandang ke depan. (Dadang K./0035)

RUANG SEMU



              Dalam menjalani sebuah kehidupan itu tak semudah bermain game atau bahkan bayangan kehidupan yang fantastik yang ku pikirkan. Hidup ku memang sudah standar namun monoton. Aku adalah seorang yang minim pengetahuan, dan yang ku tahu hanya beberapa permainan game dan sedikit materi yang ku peroleh dari sekolah yang pernah ku tempuh sampai saat ini.
                Sampai pada saat ku mendapat tugas sekolah tentang ke jurnalistikan. Mungkin jika hanya mencari informasi lewat internet, bisa-bisa saja, tapi untuk kali ini aku ditugaskan mencari berita disebuah rumah sakit. Aku yang masik sangat kaku dengan orang lain yang masih asing bagi ku, membuat tugas sekolah ini terasa menakutkan bagi ku. Meski begitu aku tetap mencoba berfikir positif akan keberhasilan akan tugas ku kali ini.
                Kini semua persiapan untuk mencari data disebuah rumah sakit sudah ku siapkan setengah matang, karena  memang aku adalah seorang yang cukup malas dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah.  Sebelum berangkat sampai saat aku dalam perjalanan menaiki sepeda motor untuk mencari sebuah ruma sakit. Aku selalu membayangkan tentang mudahnya aku mendapatkan suatu informasi dari rumah sakit tersebut.
                Aku terus bekeliling dengan motor ku entah kemana, karena aku sangat jarang sekali kluar rumah jadi aku nggak tahu harus kemana aku mencari rumah sakit terdekat. Ditambah lagi aku malas bertanya pada orang-orang yang mungkin sekiranya tahu tentang lokasi rumah sakit terdekat. Tak lama kemudian ku temukan sebuah rumah sakit. Tanpa pikir panjang ku langsung memasuki halaman rumah sakit, sekaligus mencari tempat untuk memarkirkan sepeda motor. Ku menemukan  sebuah tempat parkir, tapi aneh padahal padahal hari menurut ku sudah cukup siang namun tidak ada satu kendaranpun kecuali kendaraan ku yang parkir ditempat tersebut. Tanpa  ku perdulikan akan hal tersebut. Aku turun dari motor ku, dan langsung mencari seseorang  untuk menjawab pertanyaan ku yang sudah kupersiapkan dari rumah.
                Rumah sakit tersebut terlihat cukup ramai. Ku lihat beberapa staf rumah sakit yang lalu lalang disekitar lorong rumah sakit. Ada juga beberapa pengunjung yang duduk di samping koridor rumah sakit, dan juga sekuriti yang tengah berjalan-jalan diarea halaman rumah sakit. Ku lihat semua orang yang berada diarea rumah sakit terlihat lesu. Ah itu mungkin hanya perasaan ku, ucap ku dalam hati.
                Ku terus berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Mencari orang yang sekiranya tepat kutanyai untuk mengisi data ku. Sudah beberapa menit ku mengelilingi daerah rumah sakit tersebut, namun tetap saja aku belum memukan orang yang tepat. Karena merasa asing orang-orang disekitar rumah sakit terasa seperti setan dengan muka yang menakutkan dan membuatku semakin ragu untuk menanyai mereka. Mereka benar-benar orang asing yang belum pernah kutemui sama sekali, dimata ku mereka terlihat seperti orang garang yang menyembunyikan kemarahannya. Dengan pikiran panas penuh kebingungan, dan jantung ku yang berdegub sedikit lebih keras dari biasanya membuat tubuh ku sedikit kaku sekaligus mengucurkan keringat dingin dari sekujur tubuh ku. Kulihat tempat duduk yang panjang nya dua meteran disisi lorong rumah sakit, dan beristirahat sejenak disitu. “payah ternyata tugas ini benar-benar sulit untuk seorang seperti, aku selalu merasa ragu untuk mencoba bertanya ke orang lain untuk bisa mendapatkan data.” Sambil ku mengacak-ngacak rambut ku, kemudian memijat kepala ku sediri.
                Ku lihat sekeliling. Karena ketakutan dan keraguan ku, semuanya terlihat tak ada yang penting dan menarik untuk dibahas. Aku pun kembali mengeluh, sampai pada akhirnya ku menemukan sebuah ruangan dengan pintu terbuka. Ku lihat disana ada seorang anak laki-laki yang berumuran sekitar sebelas tahunan sedang memegang sebuah stik game. Dan sepertinya dia memang sedang bermain game. Dengan ruangan yang cukup gelap karena hampir tak ada cahaya dikamar tersebut kecuali cahaya dari pintu yang terbuka dan mungkin dari juga dari sebuah layar tv. Beberapa detik ku terus mengamatinya, dan dia pun juga tetap fokus dalam permainannya. Ingin sekali beranjak dari tempat duduk dan berbicara dengannya, dengan begitu aku mungkin sekaligus bisa menyelesaikan tugak sekolah ku. Namun tetap saja kaki ku terasa menancap dilantai rumah sakit. Rasa penasaran dan keterpaksaan akan tugas ku yang harus kuselesaikan membuatku memberanikan diri untuk masik keruangan tersebut. Yeah akhirnya aku bisa masuk keruangan tersebut. Dan sekarangn ku benar-benar melihat dia sedang bermain game petualangan horror disana.
                “permisi” kata ku agak gugup
                “ ya silahkan masuk” balas anak tersebut dan masih fokus dengan game yang sedang dimainkannya.
                Aku duduk besila disampingnya, karena memang kebetulan dia bermain dengan lesehan di atas sebuah karpet yang ukuranya mungking tiga meter persegi. Yah maklumlah karena keadaan gelap, jadi tak terlihat dengan jelas. Remang-remang kulihat sebuah kasur rumah sakit dibelakang tv yang sedang menyala dan sebuah tv lagi yang mati disampingnya. “Rumah sakit ini begitu sepi dan membosankan, apa lagi ditempat ini semua orang cuek-cuek semua. Kurasa mereka semua bukan manusia heeeh” kata anak tersebut dengan mendesah dan tetap fokus pada layar tv, “o ia kamu ada keperluan apa kesini?”
                “Eeee aku, sebenarnya mau mencari data untuk tugas sekolah ku” balas ku, kali ini aku mulai lancar berbicara karena merasa sudah mulai akrap denganya
                “ternyata kamu anak yang rajin ya. Sampai-sampai kau kemari hanya untuk menyelesaikan tugas sekolah mu.”
                “Yah sebenarnya aku sangat malas dengan PR yang satu ini, aku lebih suka berdiam diri fokus di depan layar tv untuk bermain game yang ku sukai.”
                “ha ha ha ha, o begitu ya, kalau begitu kita main game sama-sama sambil ngobrol” anak tersebut me-pause gamenya, kemudian dia menyalakan tv disampingnya dan memberikan sebuah stik game kepadaku “silahkan memilih game yang kamu suka”
                “trimakasih” sambil memilih game yang tesedia dalam layar tv yang akan ku mainkan saat ini.
                “sebenarnya apa yang kamu ingin ketahui dari rumah sakit ini?” dia kembali fokus pada layar game yang sedang dimainkanya.
                “ya tentang rumah sakit ini, mungkin data tentang kamu juga bisa, karena ki kira kamu juga pasien dari rumah sakit ini kan?”
                Anak laki-laki tersebut mulai bercerita “ya, aku memang pasien dari rumah sakit ini. Aku berada di rumah sakit ini karena ada gangguan dalam diotak ku. Kata dokter sih ada sejenis tumor didalamnya. Dulu aku sering mengeluh akan keadaan ku, beban tugas yang sering ku acuhkan membuatku semakin tak ada yang mempercayaiku bahkan aku sediri sempat membeci diri ku sendiri. Aku pun merasa menjadi penjahat diantara teman-teman ku karena aku selalu menunda pekerjaan ku. Mereka terasa menakutkan ketika membicarakan tugas sekolah tersebut. Sedangkan aku   terus mencari pelarian karena tugas sekolah tersebut terasa begitu sulit bagi ku. Tak ada yang menyemangati ku, tak ada yang membatu ku. Heeeh aku hanya sendirian. Semakin ku tunda pekerjaan ku, semakin menakutkan guru-guru ku dan teman sekelas ku. Sampai pada akhirnya aku jatuh sakit dan diam rumah selama satu bulan, tak ada yang ingin kulakukan. Sakit ku pun bertambah parah, kepala ku terkadang terasa sakit tak tentu. Hingga akhirnya aku bawa kerumah sakit ini.”
                “ee kamu tak ingin sembuh dan keluar dari rumah sakit ini?” ucap ku mengisi kekosongan
                “Enggak karena karena aku terlanjur sudah tak mempunyai jiwa. Aku sudah memilih hidup ku untuk bermain game disini. Namun pilihan ini sebentar lagi akan membawa selimut kenyamana yang pengap, dan tetap bediam ditempat yang sama tanpa sesuatu yang baru yang bisa kudapat, dan tanpa kerja keras. Di tempat itu orang-orang bodoh sudah saling tak perduli apa lagi perduli dengan yang lain karena kemalasan mereka. Mereka begitu betah dan senang akan mereka kemudian lama-lama mereka meng-kaku dalam ketidak berartian .”
                Kata-katanya kali ini terasa aneh bagi ku, namun itu membuat ku terbawa suasana “Aku juga merasa hidup ku juga tak berarti. Mungkin aku bisa ikut bersama mu jika kamu akan pergi ke tempat tersebut”            
“Sebaiknya kamu pikir lagi matang-matang. Bahkan ditempat tersebut sangatlah monoton penuh dengan kediaman. Lebih baik kau hidup dengan melaksankan tanggung jawab mu tanpa mengeluh sebelum kegelapan mengambilnya dari mu. Dan kamu pun bisa hidup dengan kreatifitas mu dan kemudian bahagia akan kerja keras mu.”
 “Dunia ini sudah memuakkan bagi ku, lagian kemanapun aku pergi tak ada sesuatu yang menarik, aku tak bisa menemukan sesuatu yang berkesan baik bagi hidup ku” jawab ku “lagian rasanya aku sudah tak punya masa depan”
“Ha ha ha ha, benar-benar sudah bodoh kamu, kalau kau berpikir seperti itu kau akan benar-benar mengikuti ku, Ha ha ha” dia pun tertawa dingin “Ku beri tahu satu hal pada mu tugas, pekerjaan, beban hidup itu adalah sesuatu yang harus kamu selesaikan untuk menemukan keberartian untuk hidup mu sebaiknya kamu jangan belama-lama di tempat pengap ini”
Kata-katanya membuat ku bertanya-tanya, sebenarnya apa maksudnya. Kemudian anak tersebut menoleh kearah ku dan berkata “sebenarnya rumah sakit ini sudah tidak ada dan sudah hancur, karena keegoisan para dokter dirumah sakit ini dan banyak terjadinya mala praktek. Itu karena kebodohan dan kemalasan yang mereka perbuat ”.  Kata-katanya kali ini membuat ku sedikit merinding. Seakan tak peduli aku teruskan bermain game.
“Sepertinya seru game petualangan yang kau main kan saat ini, apa kau tidak ingin segera pulang dan menyelesaikan tugas sekolah mu. Aku yakin yang kau dapatkan hari ini bisa menbantu  mu menyelesaikan tugas sekolah mu.” kata anak tersebut, mengganti topik pembicaraanya. “ya sebentar lagi aku ingin menyelesaikan misi di game ini, boleh kan?” balas ku
“Boleh saja, tapi sepertinya game nya masih lama tamatnya”
                Aku hanya diam dan meneruskan permainan tersebut, semua benar-benar terasa ganjil. Meski tadi sebenarnya aku agak ketakukan ditempat tersebut, namun ketakutan tersebut terhapuskan karena kefokusan ku pada permainan game yang kumainkan saat ini. Kulihat didepan tv game yang sedang kumainkan ada sebuah beda unik yang cukup membuat ku tertarik, kemudian ku ambil dan ku simpan pada saku baju ku. Entah kapan aku akan keluar dari rumah sakit tersebut, sebelum ku ikut terjebak dengan anak laki-laki yang juga bermain game disamping ku.

Oleh : Taufiqurrohman/10.1.01.07.0177