Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

AKSI FLASHMOB PENDUKUNG PRABOWO-HATTA



Yogyakarta. Kumpulan anak muda yang mengaku pelajar Muhamadiyah Yogyakarta ini beraksi dengan melakukan serangkaian kampanye kreatif ‘Flashmob’ dengan gerakan dan lagu yang menginstruksikan dukungan terhadap Prabowo-Hatta.. Aksi ini digelar di titik pusat keramaian Jalan Malioboro di kawasan Jogjakarta.
Kampanye yang dilakukan puluhan anak muda ini, merupakan wujud kreatifitas para pendukung Prabowo-Hatta. "Kami dari pelajar Muhamadiyah Jogjakarta Mas. Kami ingin menunjukkan bahwa aspirasi dan dukungan bisa disampaikan dengan carayang kreatif, tanpa jelek-jelekin pasangan lain." Ujar salah satu simpatisan di Jalan Malioboro, Jumat (27/6).

Aksi ini sengaja memilih Jalan Malioboro, karena temapat ini merupakan salah satu titik keramaian di Jogjakarta. Tak hanya menarik perhatian warga lokal dan wisatawan domestik yang kebetulan datang ke Jogjakarta, namapaknya aksi kreatif puluhan anak muda ini juga berhasil menarik antusiasme turis mancanegara. Terbukti ada turis asing yang ikut ambil bagian dalam aksi flashmob tersebut, sedangkan yang lain hanya mengabadikannya melalui lensa kameranya.
(Wahydari S./Berita 2)

Saat “Si Kecil” Beraksi




         Yogyakarta. Sejumlah anggota Rumah Zakat memegangi poster bertuliskan “Berbagi Senyum, Senyum Berbagi” dalam aksi kampanye menyambut bulan suci Ramadhan di Jalan Malioboro, Jogjakarta (27/6).
          Puluhan warga yang terdiri dari bapak-bak, ibu-ibu, anak muda, bahkan anak-anak ikut ambil bagian dalam aksi ini. Gerakan ini sendiri dimaksudkan untuk mengajak masyarakat berbagi senyum dengan sesama. Dengan diadakannya kegiatan ini, diharapkan masyarakat juga akan berupaya untuk menularkan senyum kepada mereka yang kesulitan untuk tersenyum.
          Ada hal yang menarik dari aksi yang di gelar pada Jumat sore di Malioboro tersebut yaitu 3 anak kecil yang penug semangat turut ambil bagian dalam aksi tersebut. “ Kami ke sini sama orang tua, kami senang ikut aksi ini”, tutur Ataf salah seorang anak kecil yang saya temui.
          Ataf begitu ia dipanggil, berlari ke sana-kemari sambil mengibar-ngibarkan bendera bersama 2 orang temannya seolah tak peduli dengan keramaian di Malioboro. Senyumnya begitu polos dan menggemaskan. Bahkan tak terlihat sedikitpun gurat ketakutan saat kami mendekatinya, padahal notabene kami adalah orang asing.
          Inilah hal berharga yang diperlihatkan si Kecil ini. Senyum itu sederhana, maka berbagilah senyuman kepada sesama. 
(Wahydari S./Berita 1)

SAMPAH, FAKTOR YANG HARUS DIPERHATIKAN



         YOGYAKARTA dikenal dengan daerah wisata. Pada musim liburan sekolah, tempat-tempat wisata di Yogya sering dipadati pengunjung dari berbagai daerah dengan menggendarai bus pariwisata. Hal ini tak mengherankan apabila disalah satu tempat yang kerap dikunjungi oleh parawisatawan sebagai kunjungan terakhir. Salah satu orang yang dari daerah lain mengatakan " bahwa kalau ke Jogja tak lengkap, apabila tidak berkunjung ke kraton, atau sekedar jalan-jalan ke malioboro dan tak lupa menyantap kuliner khas Jogja gudeg".
            Jogja memang sering dipadati pengunjung dengan kendaraan bus pariwisata, ini terlihat di alun-alun Jogja. Alun-alun Jogja menjadi padat oleh bus pariwisata pada sore hari. Banyaknya wisatawan dan bus pariwisata menjadikan alun-alun Jogja ramai. Keramaian yang terjadi dan banyaknya PKL membuat sampah berserakan sana sini. Sampah menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan, karena dengan hal sepele seperti sampah dapat merusak keindahan. Apalagi alun-alun Jogja sangat ramai sebagai lahan parkir bus pariwisata, tentu adanya sampah tak dapat dihindari walau sebenarnya sering pasukan kebersihan bekerja membersihkan sampah. Menurut salah satu PKL yang berjualan disekitar alun-alun Jogja mengatakan "sampah yang ada disekitar alun-alun ini sudah menjadi pemandangan yang selalu ada setiap hari, jadi kalau mau dihindari ya tidak bisa". Tapi ada cara untuk mengurangi sampah yang ada, hal itu dapat dilakukan dengan menempatkan tong sampah di berbagai penjuru alun-alun. Mungkin hal tersebut  dapat sedikit menggurangi sampah yang berserakan. Dan untuk membuang sampah pada tempatnya juga perlu kesadaran dari setiap individu. Namun hingga saat ini, di alun-alun Jogja belum terlihat adanya tong sampah diberbagai penjuru alun-alun.(17/7)  (Yayuk Dwi S./Berita 1)

ONTHEL MENGHARGAI WAKTU


Yogyakarta- Malioboro merupakan kawasan yang memiliki kebudayaan yang sangat kental, kota yang berdekatan dengan keraton jogja ini mempunyai ciri khas ya itu onthel karna gaya hidup, hampir keseluruhan masyarakat memiliki sepeda onthel,tidak membedakan mempunyai rumh mewah, mobil maupun mempunyai banyak kekayaan hidup yang lain.
“kata supono (40 th) memiliki sepeda onthel ada nilai budaya juga nilai historisnya jaman kolonial,sepeda ontel juga berperan sebagai hemat bahan bakar minyak (BBM) yang semakin mahal dan bebas polusi,hrga yang ia bli pun relative murah,harga yang di dapat pada tahun 2011 sebesar 635.000 rupiah,tuturnya”
Supono merupakan ketua dari komunitas sepeda onthel,”onthel pojok” paguyupan onthel Jogjakarta. ia sudah memerani sebuah stasiun televisi seperti RCTI, dan trans7 bersama teman komunitasnya, karna sepeda onthelnya ia selalu di undang berbagai acra di Jogjakarta seperti peringatan acra hari kartini, kirab acara jogja fashion week,bersepeda selurung jogja last Friday ride 17 Agustus, Mahasiswa Asing dan UGM serta gowes baraeng teknik sipil UGM.
Disini peran masyarakat sagat tinggi,sebagai warga Negara Indonesia jangan malu untuk menjunjung nilai kebudayaan, sepertiy sepeda onthel karna dengan sepeda onthel akan belajar menghargai waktu. akan mengatur waktu anda untuk menuju tempat acara agar tidak telat.akan alokasikan waktu bersepeda untuk sampai ke tempat acara tidak terlambat.akan belajar sabar. Onthel tidak punya mesin jadi tidak bisa cepat.dan akan bersabar dengan kelakuan pengendara sepeda motor atau mobil yang arogan dan ngawur. (Ratna Dwi W./Berita 1)

MALIOBORO, ASET YOGYAKARTA




Malioboro merupakan salah satu tempat yang sangat diminati oleh para pengunjung Daerah Yogyakarta. Tempat tersebut salah satu tempat perbelanjaan oleh-oleh khas Yogyakarta dan dijadikan sebagai tempat jual beli mulai dari tahun 1758. Kamis, 26 Juli 2014 kami mengunjungi pasar sore malioboro tepat sore hari suasana sekitar sangat ramai. Begitu Indah daerah Yogyakarta. Kami pun menyusuri jalanan pasar malioboro dengan menikmati suasana Yogyakarta kami pun melihat beberapa pedagang kaki lima yang ramai dengan menawarkan daganganya. Pasar sore malioboro terdapat pedagang pakaian khas Yogya, jajanan khas jogja, dan pernak-pernik khas Yogja. Banyak pedagang yang menjualkan dagangannya yang sama. Tapi hal tersebut tidak membuat tempat dagangan mereka dari satu dengan yang lainnya sepi. Para pedagang menjual daganganya dengan harga yang lumayan murah.
Suasana pasar tersebut selalu ramai dengan pengunjung karena ke Yogyakarta tanpa ke Malioboro berasa tidak lengkap. Untuk berjualan di pasar Malioboro tersebut walaupun rame dengan pengunjung mereka tetap harus membayar pajak setiap tahunnya. “Berdagang di pasar Malioboro keuntungannya lumayan besar apalagi dari musim liburan keuntungan mencapai dua kali lipat dari keuntungan biasa” Tutur PKL.
Pasar sore malioboro menjadi salah satu tempat kegiatan ekonomi yang terhitung dari ratusan tahun. Bayangkan jika malioboro ini mengalami suatu masalah atau bencana mungkin nasib dari para pedagang sangat memprihatinkan dan para pengunjungnya pun pasti kecewa. Untuk itu, kita harus menjaga aset dari Yogyakarta ini karena aset suatu daerah merupakan aset sebuah negara.


Sore mulai menghilang, rasa haus pada kami mulai muncul. Kami pun memutuskan untuk membeli es degan yang berada pasar malioboro. Dipinggir jalan kami mencoba menyantapnya rasanya sangat segar dan harganya pun murah. Dengan segelas Es degan kami hanya mengeluarkan 4.000 rupiah. Harga tersebut termasuk murah karena berada di daerah perkotaan.
(Rizka Khoirun Nisa/0153/Berita 1)