Tampilkan postingan dengan label Pasar Modern. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pasar Modern. Tampilkan semua postingan

Pesona Bakmi "GILI"

foto:Rika
Minggu (06/4), saya mengunjungi salah satu tempat perbelanjaan/Mall terbesar di kawasan kota Kediri. Saya melihat ada salah satu tempat makan yang membuat saya tertarik karena keunikan namanya yaitu Bakmi Gili. 

Otlet tersebut cukup ramai didatangi pengunjung, menu makanannya pun beragam dari nasi dengan berbagai lauk, nasi goreng dengan berbagai isian dan mie dengan berbagai macam nama yang membuat pengunjung penasaran dan akhirnya tertarik untuk mencoba menu-menu yang disediakan. 

Menurut salah satu juru masak di foodcourt tersebut memaparkan bahwa kata Gili itu diambil dari salah salah nama daerah yang ada di kota Surabaya, karena pusat dari otlet ini berada di Jalan Kertajaya no 82 Surabaya. Cabang dari Bakmi Gili ini dapat ditemui di beberapa tempat perbelanjaan, misalnya di Foodcourt Plaza Surabaya, Foodcourt Doho Plaza Kediri, dan Foodcourt kediri Mall. 

Kata beberapa pengunjung yang saya temui, mereka cukup puas dengan pelayanan yang diberikan, masakannya lezat serta harganya juga cukup terjangkau mulai dari Rp. 14.000 – Rp. 20.000 sudah bisa memanjakan perut. (Rika A./0149/1)

Diskon Akhir Pekan

(foto:Susiana)
 Kediri-pusat perbelanjaan Kediri Town Square telah banyak dikunjungi oleh konsumen khususnya warga kediri. Pada pusat perbelanjaan (mall) ini menyediakan berbagai kebutuhan  bagi para konsumen. Mulai dari kebutuhan primer hingga kebutuhan sekunder telah tersedia di -mall Kediri Town Square. Tidak hanya menyediakan kebutuhan dan perlengkapan yang kita butuhkan sehari-hari saja mall ini juga memberikan banjir diskon kepada pengunjungnya. Seperti Hypermart menyediakan diskon pada kebutuhan pokok seperti minyak goreng sania ukuran 2 ltr mulai dari harga Rp. 25.975 menjadi Rp. 21.275, tepung terigu segitiga biru bogasari men-  dapat diskon hingga 10%, perlengkapan mandi sabun, shampo, pasta gigi diberikan diskon 15% hingga-20%. Dan masih banyak lagi yang lainnya yang pasti lebih seru diskonnya.

Salah satu karyawan mall (Sholikatul Masruroh / 23 tahun) di kompleks Matahari penjual baju dan celana menuturkan:  “Minggu ini mall Kediri Town Square menawarkan banyak diskon kepada para pengunjung mulai dari baju merk Hasenda diskon mencapai 70%, Cardinal - Hem diskon mencapai 30%, Cardinal Casual diskon mencapai 30%, Cardinal Jeans diskon mencapai 50%, Jeans Emba diskon mencapai 30%. Dan tidak hanya baju dan celana saja yang banjir diskon tetapi sandal dan sepatu dengan merk-merk tertentu juga banjir diskon seperti Yongki Komaladi diskon mencapai 70%, Fladeo diskon mencapai 50% mulai dari harga Rp.59.000 sampai Rp. 99.000, Cardinal Ladies Shoes diskon mencapai 20% + 30%, Nevada beli 2 gratis 1.”
Salah satu trik mall ini untuk menarik pengunjung yakni dengan berani memberikan diskon yang heboh serta pelayanan yang ramah kepada pembeli atau pengunjung. Pihak pengelola mall tersebut menggunakan sistem diskon pada hari-hari tertentu seperti hari Sabtu dan Minggu, sehingga pengunjung membludak pada hari itu. Mall Kediri Town Square juga menyediakan kartu bagi pelanggan khusus untuk mendapatkan potongan harga. Hicard nama kartu bagi pelanggan khusus mall Kediri Town Square. Selamat berlanja dengan diskon di akhir pekan. (Susiana/0175/1)

FENOMENA "JALPOT"

Pelayanan di Food Court Kediri Town Square (foto:Dadang)
          Saat ini telah menjamur counter makanan cepat saji atau food court di mall kota-kota besar ataupun kota yang sedang berkembang. Hal ini menjadi salah satu daya tarik bisnis waralaba khususnya makanan cepat saji. Karena masyarakat sekarang cenderung lebih menyukai mengkonsumsi makanan dan menghabiskan waktu di counter-counter food court.
          Sebuah studi ilmiah yang dilakukan yang dilakukan Brian Wansink dari University of Illinois, dengan menyelidiki dari counter makanan cepat saji tersebut menarik orang untuk berkunjung  dan makan direstorannya. Menurut Brian, selain dari rasa lapar yang menyerang, alasan lain dari seseorang akhirnya memutuskan makan di counter makanan cepat saji adalah karena terpancing oleh gambar serta bagaimana pelayan dapat menarik dan memberikan pelayanan yang maksimal terhadap pengunjung. Akhirnya, entah mengapa, rasa lapar akan menyerang ketika melihat gambar dan teringat atas servis pelayan-an  yang memuaskan.
       Ketika sudah di dalam restoran, pengunjung kembali dibuat agar memesan lebih banyak makanan. Caranya, pelayan akan memberikan penawar-an beberapa paket yang menggiurkan dan menarik apabila disbanding dengann counter makana cepat saji yang lain. Contohnya, pelayan akan memberikan penawaran beberapa paket berukuran besar yang dibandrol dengan harga cukup murah, bila dibanding seseorang membelinya secara terpisah. Jika dilihat lagi jarang counter makanan cepat saji menawarkan makanan berukuran kecil.
        Faktor lainnya yang turut membuat penggunjung nyaman berlama-lama dan enggan untuk keluar dari counter makanan cepat saji adalah adannya televisi dan musik yang diputar. Kebanyakan lagu yang diputar merupakan lagu slow, yang membuat orang betah duduk lama di counter itu. Akibatnya orang tersebut pun menambah makanan atau minuman.
       Melihat cara-cara yang diguna-kan diatas untuk menarik orang untuk lebih banyak makan dianggap sebagai trik licik oleh Brian. Dia menuturkan bahwa, trik licik seperti itu saat ini dianggap sah dan wajar.
           “ Orang-orang bisa sangat terpengaruh untuk makan lebih banyak ketika menginjakkan kaki di counter makanan cepat saji. Ada berbagai cara yang dilakukan agar orang  memesan lebih banyak makanan dan sesering  mungkin,” kata Brian seperti dikutip laman Dailly Mail, (Selasa/14/1/2014).
     Salah dri trik diatas yang sangat penting adalah factor pelayan yang memenuhi kriteria perusahaan. Menjadi pelayan di counter makanan cepat saji sudah menjadi suatu keharusan untuk membuat tamu senyaman mungkin dan harus tau bagaimana caranya untuk meningkatkan income dimana mereka bekerja.
           Dari tuntutan itulah makanya  timbul yang namanya fenomena karyawan “JALPOT” alias jajal copot, artinya mereka hanya mau memenuhi tuntutan sebagai pelayan karena alasan tertentu dan dalam jangka waktu tertentu. Hal itu juga dibenarkan oleh narasumber kami, saudara Wahid, yang pernah selama tiga bulan bekerja sebagai pelayan di counter makanan cepat saji di salah satu Mall ternama  yang mengatakan, bahwa memang ada beberapa pelayan yang baru masuk tapi cepat dicopot juga atau mengundurkan diri.
            Padahal untuk bekerja dan diterima  menjadi pelayan di counter tersebut tidaklah mudah ada beberapa criteria  yang harus dipenuhi contohnya harus good looking, semangat bekerja dan harus berpengalaman pada bagian-bagian tertentu.
         Menurut Wahid adanya jalpot ini efek dari beberapa faktor dari internal maupun eksternal, antara lain gaji belum bisa mencukupi kebutuhan, sulit mengsingkronisasikan dengan jadwal kegiatan lain, banyak melalukan kesalahan ketika bekerja, kurang nyaman dengan lingkungan kerja baik dari segi teman maupun sarana, jam kerja 12 jam dengan masa istirahat hanya 2-3 jam dan tidak nyaman dengan sikap pimpinan.
        Kebanyakan pelayan counter yang terkena jalpot adalah pelayan yang masih mempunyai kesibukan lain seperti kuliah. Mereka bekerja sebaga pelayan counter makanan siap saji karena untuk mengisi waktu luang. Salah satunya narasumber kami ini masih menempuh kuliah di salah satu kampus swasta di Kota Kediri. Menurutnya, waktu itu dia keluar karena lebih prioritas kepada pendidikan kuliahnya, sehingga dia sulit untuk menyesuaikan waktu bekerja dengan jadwal kuliahnya. Sedangkan dia harus memenuhi tuntutan jam keja 12 jam sehari dengan waktu istirahat hanya 2-3 jam. Menurutnya hal itulah yang membuatnya sulit bertahan di tempat itu. Dan apabila diteruskan gajinya akan berkurang secara signifikan karena setiap jam kerja yang dihilangkan untuk kesibukan lain.
            Inilah yang menjadi problem menjamurnya fenomena jalpot. Tetapi ada beberapa cara atau tips yang mungkin bisa berguna bagi para pekerja yang beminat menjadi pelayan counter makanan siap saji agar tidak jalpot adalah pertama pikirkan secara matang kertika memutuskankan mengambil pekerjaan itu, kemudian juga para pemilik counter makanan sipa saji juga harus memperhatikan sedikit banyak kebutuhan dan keluhan para pekerja, dan yang terakhir pada pihak pemerintah agar dapat memberikan aturan yang jelas yang mengatur tentang para pekerja counter makanan siap saji agar lebih bisa memanusiakan para pelayan counter serta  juga tidak merugikan para pelaku bisnis counter makanan siap saji. (Dadang K./0035/1)

Fasilitas Kediri Town Square

Kediri Town Square (foto:Ririn)
        KEDIRI TOWN SQUARE merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang sangat disukai oleh warga kediri dan sekitarnya. Biasanya pengunjung datang ke KETOS untuk berbelanja, untuk sekedar jalan-jalan ataupun untuk bertemu dengan rekan bisnis.

        Salah satu faktor pendukung yang menjadi daya tarik dalam KETOS tersebut yaitu fasilitas yang ada didalamnya, diantaranya yaitu tempat parkirnya. Hampir semua pengunjung yang datang ke Mall tersebut menggunakan kendaraan pribadi, seperti mobil dan motor.
     Pengunjung tentunya akan merasa nyaman belanja didalam Mall jika kendaraannya sudah terparkir ditempat yang aman dan nyaman. Ini dikemukakan oleh Maryono, salah satu pengunjung Ketos yang menggunakan motor sebagai kendaraannya, ia mengatakan ia sangat nyaman dan puas dengan tempat parkir yang ada dalam mall ini, karena tempatnya luas dan penataan parkirnya juga rapi. Begitu juga dengan parkiran mobilnya, tempatnya luas dan penataannya rapi.
         Budiono (28), pengelola parkir menerangkan, dalam Mall ini terdapat lima lantai untuk parkir, yaitu lantai satu dan dua khusus untuk parkir motor dan lantai tiga, empat, lima khusus untuk mobil. Tarif parkir disini juga sangat terjangkau yaitu untuk motor Rp 2000/jam dan untuk mobil Rp 5000/jam. Jam buka tempat parkir ini dari pukul 09.00-22.00 WIB.
     Ketika hari minggu atau hari libur tempat parkir disini terisi penuh. Karena banyaknya pengunjung yang datang. Walau demikian tempat parkir disini masih dapat menampung kendaraan-kendaraan pengunjung. Dan dapat dilihat juga banyak pengunjung yang parkir di ruas-ruas jalan raya sekitar Mall, itu dikarenakan begitu banyaknya kndaraan pengunjung, itu terjadi ketika hari minggu atau hari libur saja, tambah Budiono.
        Selain tempat parkir yang luas, nyaman dan aman, Kediri Town Square juga memiliki toilet yang bersih dan nyaman, didalam mall ini terdapat dua toilet perempuan dan dua toilet laki-laki. Kebersihan toilet ini sangat diutamakan, sehingga tidak pernah ada genangan air. Petugas kebersihan setempat mengatakan “ketika ada genangan air maupun sampah petugas kami segera mungkin membersihkannya, agar toilet ini tetap terlihat bersih dan nyaman. Diharapkan juga pengunjung ikut menjaga kebersihan toilet ini dengan cara membuang sampah pada tempat yang disediakan”.
          Fasilitas lain seperti eskalator juga terdapat disetiap lantai, jadi memudahkan pengunjung untuk menuju dari lantai satu ke lantai berikutnya tanpa merasa capek. Lantai-lantainya juga terjaga kebersihannya, penataan otlet-otletnya juga rapi dan teratur. 
        Dibandingkan Mall yang lain Kediri Town Square ini memiliki tempat parkir yang paling luas dan nyaman. (Ririn P./0151/1)  

MALL, Semakin Eksis

Hypermart Kediri (foto:Rosita)
           Saat ini, di wilayah Kediri telah berdiri beberapa mall. Mall-mall tersebut tentu saja bersaing ketat untuk menarik para pengunjung, terlebih pada saat akhir pekan. Berbagai cara dilakukan, misalnya saja dengan memberikan potongan harga (diskon) pada pakaian hingga kebutuhan pokok sehari-hari. “Kami sering mengadakan event-event tertentu seperti lomba band, lomba dance yang diikuti oleh kalangan pelajar, hingga pameran furniture-furniture, yang mana merupakan kiat-kiat agar menarik para pengunjung”, ungkap bapak Haris yang merupakan karyawan di bagian management Kediri Town Square Kediri saat ditemui di ruang Building Management Office.
Gaya hidup, mungkin inilah yang dapat menggambarkan bagi mereka yang doyan pergi ke mall. Lepas dari fungsi mall itu sendiri dan tujuan dari masing-masing pengunjung.
Pengunjung merupakan tolak ukur untuk sebuah mall. Semakin banyak pengunjung, maka semakin eksislah mall tersebut. Begitu juga sebaliknya, jika jumlah pengunjung mall tersebut sedikit, maka keeksisan mall tersebut bisa meredup. Salah satu yang dapat mempengaruhi hal tersebut yakni “penawaran” yang diberikan oleh pihak mall. Walaupun tujuan para pengunjung berbeda, itu tidak menjadi sebuah masalah besar. Karena yang menjadi fokus utamanya adalah kedatangan para pengunjung ke mall. Hingga pada akhirnya, mall memiliki peran penting pada gaya hidup masyarakat. Lagi-lagi keeksisan mall semakin menjadi.
Banyak faktor yang menjadikan mall semakin eksis, antara lain yakni cara pengelola mall  menarik minat masyarakat untuk mengunjungi mall. Sehingga persentase jumlah pengunjung meningkat. “ Namun tidak semua event yang kami adakan dapat menarik para pengunjung, oleh karena itu kami harus pandai-pandai mengatur strategi untuk menarik minat pengunjung”, ungkap bapak Haris. Selain itu, persaingan sangatlah ketat antara mall satu dengan mall yang lainnya.
Pengunjung mall datang dari berbagai kalangan. Tidak hanya remaja, namun merambah pada semua kalangan, hingga anak yang berada dibawah umur. Mall tidak lagi menjadi tempat mewah yang hanya bisa didatangi oleh kalangan menengah ke atas. Namun semua kalangan kini dapat dengan mudah mengunjungi mall. Tidak harus berbelanja, hanya sekedar nongkrongpun bisa dilakukan di mall. Ini terlihat pada kalangan remaja yang lalu lalang, bahkan mereka masih menggunakan seragam sekolah lengkap dengan atribut-atributnya. Ada yang hanya jalan-jalan dengan teman-temannya, hingga jalan dengan pasangannya. Selain itu, juga ada ibu-ibu rumah tangga yang asyik berbelanja dengan mengajak anak-anaknya masih menggunakan seragam sekolah, dan anak yang masih dibawah umur.
“Hanya jalan-jalan aja mbak, soalnya pusing mikirin tugas sekolah, refreshing gitu”, ungkap Ikfina yang merupakan pelajar dari salah satu sekolah menengah atas negeri kota Kediri. Pada saat siang hari, di area food court Kediri Mall, memang ramai dipenuhi dengan pelajar yang sedang asyik menikmati santap siang sambil bercengkrama. Lain lagi dengan ibu-ibu rumah tangga, salah satunya bu Lita. “ biasa mbak, belanja bulanan, kebetulan anak-anak lagi dengan ayahnya main game”, ungkap bu Lita saat ditemui di area swalayan Sri Ratu, Kediri Mall.
Lepas dari semua hal di atas, yang dapat kita petik adalah bagaimana dampak keeksisan  dari mall tersebut. Bergantung pada diri kita sendiri nantinya, entah dampaknya akan positif ataupun negatif. Namun mall memiliki peran penting bagi kita dengan segala keeksisannya. (Rosita D.S/0159/1)

MESKI MASA KAMPANYE, MALL-MALL DI KEDIRI KOTA TETAP EKSIS

Rest Food Area Ketos (foto:Ninik)
          Tak kalah dengan parpol-parpol yang berkampanye, eksistensi mall-mall di Kediri dalam masa kampanye ini tetap tak tergoyahkan. Meskipun hasil survey yang dikeluarkan oleh salah satu televisi swasta nasional menunjukkan bahwa kampanye dengan cara mengerahkan massa masih menjadi andalan bagi parpol peserta pemilu legislatif  April 2014 mendatang, namun hal ini tidak berpengaruh terhadap jumlah pengunjung mall.
Logikanya, jika banyak massa yang ikut kampanye, pasti ada kemungkinan jumlah pengunjung mall berkurang karena ada yang ikut berkampanye,  namun fakta di lapang-an tidak demikian. Mall-mall di Kediri tak lengang oleh pungunjung, bahkan di hari-hari libur seperti hari Minggu dan hari libur nasional lainnya selama masa kampanye ini jumlah pengunjung mall malah meningkat.
Sepertinya memang massa lebih tertarik mengunjungi mall daripada ikut berkampanye, seperti pengakuan beberapa pengunjung mall berikut. Ibu Yani (35) saat ditanyai lebih suka ke mall atau ikut kampanye, ibu muda ini dengan semangat langsung menjawab “Ya ke mall dong, Mbak. Kalau ke mall itu lebih adem, enggak kepanasan. Kalau kampanye kan panas, mana berdesak-dekan lagi”.
Lain Yani, lain pula dengan Shifa (17), salah satu siswa swasta di Kediri ini memilih lebih suka ke mall karena berkunjung ke mall lebih bisa bergaya daripada mengikuti kampanye. “Kalau main ke mall itu bisa pakai baju yang keren, Mbak, terus kalau ke mall itu kita juga bisa sambil mejeng, pokoknya kalau ke mall itu lebih asyik deh Mbak, daripada ikut kampaye. Kampanye bajunya itu-itu aja, mana yang ikut orang-orang tua lagi”, papar gadis manis berrambut panjang itu saat ditanya mengapa ia lebih suka ke mall daripada ikut kampanye.
Mall memang mempunyai daya tarik tersendiri untuk dikunjungi, tidak perlu mengahadirkan orang penting seperti pejabat ataupun artis ibu kota layaknya kampanye parpol, mall tetap menarik untuk dikunjungi. Karena itu tidak mengherankan jika musim kampanye tidak mempengaruhi jumlah pengunjung mall.  Hal ini diakui oleh salah satu Staf Pengelola Kediri Town Square, Haris. Saat ditemui di tempat kerjanya (27/3), pria berpembawaan ramah ini menuturkan bahwa selama adanya kampanye, jumlah pengunjung Ketos (singkatan dari Kediri Town Square) tidak bermasalah. Keramaian Ketos dapat dilihat berjubelnya pengunjung yang memadatai rest food area dan pusat perbelanjaan seperti Hypermart dan Matahari.
Pengunjung Ketos sendiri sangat variatif, mulai anak-anak sampai orang tua, pria maupun wanita baik dalam maupun luar Kediri, namun mayoritas pengunjungnya adalah usia 30 tahun ke atas. Mereka pun masih tetap akan dimanjakan dengan berbagai diskon di Matahari dan berbagai harga promo sembako di Hypermart.
Senada dengan hal itu, ditemui di tempat terpisah, Arsitektur Desain Kediri Mall, Pak Hess juga menuturkan bahwa adanya kampanye tidak berpengaruh terhadap jumlah pengunjung Kediri Mall. Mall yang pertama dibangun di Kediri itu tetap ramai, bahkan masih menjadi tempat favorit orang Kediri dan sekitarnya untuk nongkrong dan bercengkerama dengan kerabat dan sahabat.
Tidak mau kalah dengan mall-mall yang lain, untuk menarik pengunjung KM (Kediri Mall) juga menyajikan hiburan band live perform setiap hari Minggu. Bahkan, Sri Ratu, salah satu swalayan yang menjadi ikon KM  menggeber obral underwear berbagai merk dan ukuran.
Saat ditanya seandainya mall diperbolehkan sebagai tempat kampaye, mengingat begitu banyak dan variatifnya pengunjung mall, pihak Ketos maupun KM sepakat untuk memilih netral dan menjauhkan mall dari kegiatan parpol.
Wah sayang ya, padahal kalau kampanye boleh dilakukan di mall, lumayan bisa menguntungkan baik pihak mall, parpol, maupun massa. Pihak mall bisa mendapat tambahan pemasukan, pihak parpol pun bisa menyampaikan program-progamnya dengan tenang tidak perlu teriak-teriak, dan massa pun bisa nyaman mendengarkan program-program parpol tanpa harus kepanasan seperti di lapangan terbuka. (Ninik Utari/0129/1)